Rabu, 20 Mei 2009

TEORI POINTERS & AKESELERASI

Oleh : Rudi Utomo

Belajar menulis skenario bisa melalui buku, pelatihan atau sekolah khusus di bidang tersebut. Namun tidak semua orang bisa menangkap dengan cepat materi-materi yang berkaitan dengan penulisan skenario. Masalahnya, menulis skenario memang tidak mudah. Butuh penghayatan, ketekunan dan kenakalan imaginer. Kami sendiri saja yang sudah bertahun-tahun menulis masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu dalam kesempatan ini, kami ingin memberikan sebuah pilihan belajar. Yaitu belajar melalui pengalaman dalam belajar menulis skenario itu sendiri. Pengalaman mendengar, mencoba dan kemudian bereksperiment membuat cara sendiri, sehingga menulis skenario itu menjadi mudah.

Ada beberapa eksperiment dan pengalaman yang akan kami sampaikan satu persatu dan berkala. Untuk kesempatan kali ini, kami ingin menyampaikan dua teori lebih dahulu sebagai pembukaan forum ini.

Yang pertama adalah “Teori Pointers”

Biasanya, cara yang paling mudah dan biasa ditempuh oleh seseorang dalam menulis skenario adalah menentukan tema. Tema menarik yang telah didapat itu dijabarkan dalam sebuah ringkasan cerita atau sinopsis. Dari sini bisa diketahui para tokohnya dan jumlah pemain yang diperlukan.

Setelah tema dan sinopsis, langkah selanjutnya adalah menentukan karakter tokoh-tokohnya agar dalam penulisan skenario para tokoh tidak berubah wujud, baik dalam dialog maupun visualisasi emosi karakter.

Setelah itu, sinopsis yang sudah jadi dan dianggap matang, dijabarkan lagi ke dalam bentuk treatment : semacam sinosis yang lebih panjang yang memuat detail pengadeganan serta perkembangan konflik yang ingin diurai dan diungkapkan.

Yang demikian ini adalah tahapan menulis yang normal sesuai dengan disiplin ilmunya. Namun dalam pengalaman belajar, kami bisa membuatnya lebih sederhana lagi. Yaitu dengan mengurai sinopsis yang sudah dibuat ke dalam bentuk pointers.

Urutan cerita dibuat menjadi point demi point. Point satu bicara apa, point dua bicara apa, demikian seterusnya. Nah, point demi point sesuai jalan cerita yang ingin ditulis inilah yang menjadi acuan dan panduan dalam menulis skenario.

Panduan ini tidak lantas menjadi acuan paten. Dalam tahap penulisan skenario, adegan demi adegan pointers yang telah dibuat sering berkembang, atau bisa juga menyempit, atau mungkin juga berubah, sesuai dengan lintasan ide-ide di dalam pikiran kita. Sayangnya, dengan cara ini sinopsis yang telah kita buat akan cenderung banyak berubah. Namun untuk percepatan penulisan, cara ini sangat efisien.

Kedua adalah “Teori Akselerasi”

Satu kata yang sering diulang-ulang dalam saya belajar sambil bekerja menulis skenario ini adalah “akselerasi”. Akselerasi di sini tidak dalam pengertian percepatan, baik waktu, daya gerak, mesin, atau percepatan lainnya. Akselerasi yang dibicarakan di sini adalah semacam feeling, rasa, kemampuan membaca, menilai, mengevaluasi, mengkritik dari naskah yang baru saja ditulis. Atau bisa juga disebut ketajaman dalam membuat management konflik dari cerita itu sendiri.

Saya sering dicerahkan, bahwa akselerasi itu seperti seseorang yang memarkir mobil di pinggir got dengan setengah ban berada di bibir got dan setengahnya lagi berada di bibir jalan, karena jalanan itu sempit. Akselerasi memang tidak ada teorinya, tetapi akselerasi hanya didapat berdasarkan pengalaman dan feeling atau perasaan.

Akselerasi penting dimiliki bagi seorang penulis untuk mengetahui sejauh mana cerita yang ditulisnya benar secara sinematografi, ceritanya logis, konfliknya padat, dan karakter tokoh-tokohnya konsisten, serta akhirnya mencapai sasaran berupa jalinan cerita yang diinginkan. Karena itu, untuk mencapai akselerasi tinggi, seorang penulis wajib mempunyai perasaan yang sensitif, sehingga cerita yang ditulisnyapun menjadi baik dan menarik.

Seseorang yang sensitif, pasti akan selalu berfikir tentang perasaan orang lain. Dan bukan berfikir tentang perasaannya sendiri. Artinya, ia akan selalu berfikir dari sudut pandang orang lain. Karena itu jika ia menjadi penulis, maka sudah pasti ia akan merangkum berbagai sudut pandang sehingga sebuah cerita menjadi kuat dan logis.

Demikianlah sementara ini yang bisa kami bagi kepada anda. Mudah-mudahan pada kesempatan berikut, kami bisa melanjutkan dalam point-point pengalaman yang lebih eksperimental. Terima kasih. (Rudi Utomo)

BERSAMBUNG

Diambil dari Dapur Cerita

Tidak ada komentar: